Rekapitulasi Hasil Jakarta Editors Lab 2018

Workshop yang diadakan sebagai rangkaian acara dari Jakarta Editors Lab yang bekerjasama dengan Global Editors Network (GEN), Google News Lab, Aliansi Jurnalis Independen (AJI), UMN serta Ikatan Mahasiswa Ilmu Komunikasi UMN (I’M KOM) pada Jumat, 9 Maret 2018. Workshop dibuka dengan penjelasan singkat oleh Sarah Toporoff sebagai Programme Manager Global Editors Network  mengenai kriteria penilaian hasil kerja peserta JEL. Ada 4 poin penting yaitu :

Inovasi editorial
Pengalaman pengguna
Prototype dengan kegunaannya
Implementasinya

Sesi pertama yaitu sesi “Data Journalism Strategy for Newsroom with Limited Resources yang dibawakan oleh seorang Founder of Data N.Data journalist,  yaitu Kuek Ser Kuang Keng. Topik yang ia bawakan saat itu mengenai tips dan strategi data journalism dalam ruang wartawan/berita kecil. Dalam workshop tersebut Mr. Keng menjelaskan mengenai bagaimana sebuah ruang berita / wartawan hanya terdiri dari kurang dari 40 orang saja sedangkan dalam jangka waktu tertentu mereka harus mengerjakan develop ide dalam waktu yang singkat (saat membuat prototype). Akan  tetapi setelah melalui hal itu pastinya seorang wartawan akan lebih mudah dalam mengerjakan cerita/pemberitaan lainnya. Mr. Keng ingin menyampaikan bahwa data journalism itu sungguh besar manfaatnya dan tenntunya akan sangat dibutuhkan nantinya.

Ada beberapa saran dan masukan dari Mr. Keng, yaitu kita dalam membuat apapun cobalah untuk selalu melihat sisi kreatif dimana lawan kita atau competitors kita tidak akan terpikir akan hal-hal kreatif tersebut. Selain itu, lakukan riset mengenai apa yang sudah orang lain kerjakan, jadikan hal tersebut sebagai pembelajaran untuk pembuatan prototype atau semacamnya. Terakhir, dalam membuat sesuatu tetap harus “stay close to the ground”.

Sesi kedua yaitu sesi “Hoax Busting and Digital Hygiene” diisi oleh Irene Jay Liu sebagai bagian dari Google News Lab Lead Asia Pacific Region. Pada sesi kedua ini, Irene membahas lebih dalam mengenani News Lab dan Hoax Busting. Irene banyak bercerita mengenai pengalamannya dalam dunia jurnalis. Bagi Irene, apa yang ia alami selama 10 tahun sebagai seorang reporter memang memberinya banyak ilmu dan pengetahuan di dalamnya. Irene menekankan di awal bahwa, di zaman sekarang, teknologi yang semakin maju dan berubah ini semakin membuat pemikiran seseorang menjadi semakin kreatif dan inovatif. Beberapa contoh diantaranya yaitu, banyak orang yang menulis di website atau blog yang digunakan untuk menyampaikan aspirasi, isu, berita, pendapat dan pemikiran. Selain itu, ada juga yang menggunakan social media sebagai medium untuk menciptakan sebuah video atau gambar mengenai sebuah pemberitaan. Saat ini, jurnalis sangatlah penting bagi publik, karena jurnalis adalah orang-orang yang mau mencari informasi dan kemudian mengkomunikasikan kepada masyarakat luas tanpa takut serta menjadi sumber untuk menyuarakan kebenaran yang ada. Irene berharap, melalui Hackathon nanti mampu melahirkan jurnalis yang diharapkan dapat menjawab dan memberikan solusi dari permasalahan dunia sekarang ini.

Di samping itu, dunia sekarang ini sedang dipenuhi dengan banyaknya tools yang digunakan untuk menyuarakan sesuatu atau membuat sesuatu yang dapat menghasilkan sebuah karya. Beberapa alat tersebut tidak menutup kemungkinan akan memiliki dampak pada dunia. Tantangan dalam dunia jurnalistik saat ini yaitu terjadinya misinformasi, yang semakin meningkat dan diperparah dengan hoax yang terus bermunculan. Hal ini menjadikan tingkat kepercayaan masyarakat terus menurun.  Google juga menyediakan alat seperti Google NewsLab, yang dapat kalian gunakan untuk melihat verifikasi, data journalism, dan masih banyak lagi.

Setelah presentasi oleh Irene, berlangsunglah sesi tanya jawab. Penanya pertama oleh Rosa dari IDN Times. Memasuki era ini digital saat ini, banyak orang mengira artikel itu adalah fake news, bukan karena nyatanya itu berita palsu, tetapi mereka merasa itu tidak sejalan dengan yang mereka yakini. Pertanyaannya, bagaimana news bisa merespon fenomena ini, yang bersangkutan dengan media literasi. Irene menyetujui pernyataan yang sempat disampaikan Rosa, bahwa fenomena itu merupakan sebuah isu yang cukup besar. Sebenarnya tidak hanya di Indonesia saja hal tersbut terjadi. Newsroom perlu feedback dari politisi maupun orang-orang dan tidak melanjutkan hal buruk dalam journalism terus terjadi. Selain itu, jurnalis juga harus memperhatikan keamanan digital mereka. Jurnalis harus mampu melawan efek negatif, dan menghindari hal negatif yang terjadi, demi keamanan digital mereka. Demi mengurangi hal negatif seperti bullying, cyber bullying, Google membuat sebuah checklist untuk memeriksa apakah kita sudah sesuai dengan keamanannya atau belum.

Pertanyaan kedua disampaikan oleh Caroline dari Kompas.com. Seberapa jauh kita harus belajar tentang teknologi? Setiap jurnalis harus mengerti apa yang mereka mau lakukan dan sedang lakukan. Mungkin ada dari kita yang tertarik belajar tentang coding, itu sangat bagus dalam programming, yang memahami data dan kode. Jurnalis yang mampu berbicara dan berkomunikasi dengan orang programmingnya, itu menjadi sebuah nilai tambahan yang menguntungkan juga untuk jurnalis tersebut. Untuk kalian yang ingin bisa menggunakan teknologi, harus bisa melakukan pencarian (search) melalui Google/Yahoo/dll untuk memperoleh informasi dengan cepadan sumber yang jelas. Pesan yang Irene ingin sampaikan adalah kita harus tahu bagaimana sesuatu itu digunakan. Kita harus tahu caranya.

Penanya ketiga, dari KataData. Bagaimana Google menanggapi beberapa foto-foto yang dimanipulasi dengan Photoshop dan software semacamnya.  Gogle memiliki beberapa tools untuk memverifikasi gambar, video, atau konten lainnya yaitu dengan google maps salah satu contohnya. Kita sendiri yang tahu bagaimana menggunakan alat-alat itu dengan baik dan selayaknya.

Pembicara selanjutnya adalah Ibu Hesthi Murthi sebagai Koordinator Divisi Advokasi AJI Indonesia dan Pemimpin Redaksi Independen.id. Ibu Hesthi membahas mengenai misinformasi dan disinformasi. Misinformasi adalah informasi yang salah, namun orang yang membagikan itu percaya kalau itu benar. Disinformasi adalah informasi yang salah dan orang yang membagikannya tahu itu salah(disengaja). Dijelaskan juga beberapa tipe mis dan disinformasi, yaitu  satire/parodi(hanya lucu-lucuan saja ), konten menyesatkan, konten ASPAL, konten pabrikasi, tidak nyambung, konteksnya salah, konten manipulatif. Disampaikan pula cara agar tidak termakan oleh hoax, yaitu

Cek alamat situs terlebih dahulu
Detail visual(cek foto atau logonya)
Iklan(hati-hati dengan web yang banyak iklannya, ada media yang abal-abal hanya mengandalkan click)
Ciri-ciri pakem media (perhatikan nama penulis, cara menulis tanggal di badan berita, hyperlinknya, narasumber kredibel atau tidak, dan seterusnya)
About Us ( media abal-abal selal anonim)
Sensasional (hati-hati dengan judul sensasional)
Cek situs mainstream
Ada pula alat-alat untuk melawan hoax, ada Google Reverse Image Research , Search Google, dan Google Maps & Street View.

Pembicara terakhir pada Workshop Jakarta Editors Lab adalah Antoine Laurent dari International Media Strategis. Mr Antoine menjelaskan banyak tentang persiapan apa saja yang harus dilakukan untuk Hackathon JEL. Dalam pembuatan prototype harus jelas masalah dan solusinya nanti apa, ide itu dating darimana, aspek teknis yang dipilih seperti apa, dan setelah itu baru menjalankan prototype tersebut.

Disampaikan pula beberapa masukan oleh Mr Antoine untuk peserta JEL. Dalam menjelaskan prototype harus membuat juri terkesima dari awal dengan detail ide peserta, yang perlu disiapkan dalam 2 hari adalah desain dan slide untuk pitching. Mr Antoine memahami betul karakteristik orang orang, ada yang harus selalu membawa notes, mempersiapkan terlebih dahulu semuanya, disitu setiap orang punya caranya sendiri untuk menyiapkan sesuatu.

Terakhir, Mr Antoine menyinggung mengenai penyelesaian masalah yang spesifik, ada 10 poin penting, yaitu topic yang diambil seperti apa, perhatikan juga perkiraan hasilnya, dapat meningkatkan info digitalnya, berhati-hati dengan konten, mengumpulkan konten yang dihasilkan, jadikan ide yang dibuat menjadi sederhana, tetapi tetap nyambung dengan topic yang dipilih, pastikan prototype bisa jalan dengan baik, gunakan bahasa sendiri untuk menjelaskan kepada juri tentang konsepmu, dan taati jadwal yang ada selama rangkaian acara.

Sekian rekapitulasi dari kami mengenai Workshop Jakarta Editors Lab 2018, semoga dapat bermanfaat dan menambah wawasan kalian. Selamat beraktifitas, Kom. ­­­­­­

INFORMASI LEBIH LANJUT DAPAT DILIHAT DI :

File PPT milik Antoine Laurent, Hesthi Murthi, Kuek Ser Kuang Keng
PPT milik Irene Jay Liu tidak tersedia
PPT milik Sarah Toporoff tidak tersedia